Pagi ini masih
sama. Kicauan burung itu masih terdengar. Dan dinginnya masih menusuk. Tidak
ada yang berubah dengan hariku kecuali sekarang aku benar-benar tidak lagi
punya kesempatan bersamanya. Ya, selesai. Tanpa sadar air mataku menetes lagi.
“Sial. Ini keputusanku harusnya aku bisa terima konsekuensinya!” runtukku dalam
hati.
***
Namaku Marcella. Tapi teman-teman
biasa memanggilku Acel. Hari ini aku terlambat lagi tiba di Universitas
Meditsa. Kampusku. Artinya, hari ini aku melewatkan mata kuliah Perilaku
Organisasi, favoritku. Belakangan ini aku memang sering terlambat. Beberapa
minggu ini kan lagi musim bola. Mana mau aku melewatkan pertandingan bergengsi
semacam Euro Cup begini. Ya inilah
hasilnya, hampir setiap pagi aku bangun terlambat. Ini malah sudah kedua
kalinya di minggu ini. Sambil menghela nafas aku melangkahkan kakiku, hendak
pulang. Tetapi di tengah perjalanan aku memutuskan singgah dulu ke toko buku.
Karena sesuai tanggal, hari ini penulis favoritku launching novel ke-4 nya.
Kusebut
tempat ini Heaven On Earth, karena
memang bagiku seperti itulah toko buku ini terasa. Bukan hanya toko buku ini.
Melainkan semua toko buku. Buku. Oke untuk beberapa orang buku terasa
membosankan. Tapi bagiku tidak. Aku sangat menyukai buku. Mungkin aku adalah
satu dari segelintir orang yang bisa otomatis menyunggingkan senyum saat baru
memasuki toko buku. Aku sangat suka bau kertas-kertas itu. Aaaaaah. Dan ya aku suka buku apa saja. Biografi, novel,
kumpulan cerpen, apa saja.
“Suka buku itu ya?” suara berat khas laki-laki terdengar di sebelahku.
Sedikit terkejut aku melihat ke arah suara itu. Disebelahku, aku menemukan
lelaki yang lebih tinggi dariku. Mengenakan kaos hitam polos, kacamata
berbingkai hitam, dan beberapa helai poni yang seperti jatuh dengan enggan ke
dahinya.
Aku sebenarnya tidak termasuk orang
yang banyak bicara. Tapi lain halnya apabila topik pembicaraannya adalah buku.
Aku bisa dengan tiba-tiba mengajak bicara orang disebelahku di toko buku hanya
karena aku melihat orang itu memegang lalu meletakkan kembali buku yang
menurutku pantas dikasih rate 5 stars.
Aku menjadi orang yang berbeda jika tentang buku. Kepribadian ganda,
ejek teman-temanku. Mungkin lelaki ini seperti aku.
“Iya
nih pengen beli satu buku aja karena uangku gak cukup, tapi aku bingung mau
yang The Journeys 1 atau yang The Journeys 2. Aku nyariin kali aja ada yang
udah kebuka biar bisa liat sebagian isinya dulu, tapi gak ada.” Jawabku sedih.
Dia pun tertawa. “Ini aku kasih rekomend deh ya. Soalnya aku liat kamu
udah berapa menit disitu cuma megang-megang dua buku itu aja dari tadi. Menurut
aku, The Journeys 2 ini lebih seru. Karena dia nyeritain tentang Indonesia.
Tempat-tempat bersejarah ada. Kebudayaan juga ada. Aku pribadi sih lebih suka
ini.” Dia menjelaskan dengan panjang lebar tentang salah satu buku yang aku
pegang.
Dengan tersenyum kecil akhirnya aku
mengangguk. “oke aku ambil The Journeys 2 deh. Ng... Makasih ya. Makasih
banget.” ucapku ditambah dengan cengiran.
“Sama-sama, sorry aku Nathan.” ujarnya sambil mengulurkan tangannya. Sejenak
canggung menghinggapi diriku. Tapi kuulurkan tanganku, “hai Nathan. Aku Acel”
Hari itu kami bercerita tentang buku
ini dan itu. Membahas beberapa buku yang terletak di rak best seller. Sampai akhirnya 15 menit berlalu dan aku harus segera
pulang. Dan akhirnya kami berpisah disana.
***
Itu beberapa hari yang lalu. Nathan
bukanlah satu-satunya teman dadakan –begitu aku menyebutnya- yang aku dapatkan
di toko buku. Ada beberapa teman baik laki-laki maupun perempuan yang aku kenal
berawal dari toko buku. Ya, mayoritas
perempuan. Dan beberapa diantaranya malah menjadi sahabatku. Jarnika salah
satunya. Kami berkenalan di toko buku dan akhirnya saling bertukar nomor handphone. Dan dimulailah persahabatan
kami, sejak SMA hingga sekarang. Apalagi kami berada di kampus yang sama. Dan
sebutlah ini sesuatu yang sangat kebetulan. Kami ada di jurusan yang sama.
Jarnika
adalah salah satu sahabatku yang menggilai buku. Hanya saja dia lebih memilih
berkutat dengan bacaan novel-novel. Dan dia tidak akan segan-segan untuk
memesan online semua novel-novel itu hanya agar bisa mendapatkan tanda tangan
penulis favoritnya. Padahal bisa dikatakan ongkos kirim paket ke kota kami
mahal. Diatas dua puluh ribuan. Berbeda denganku. Karena uang jajanku yang
minim, aku hanya memesan online buku-buku yang memang tidak masuk ke toko buku kotaku.
Tapi, intinya kami adalah sepasang sahabat penggila baca.
Hari
ini teriknya matahari sangat menyengat. Dan disinilah kami. Aku dan
Jarnika. Toko Buku. Tidak asing, bukan? Dosen kami –yang lumayan killer- itu
tadi tiba-tiba saja mendadak tidak masuk. Tidak jelas apa alasannya. Dan bahkan
tidak ada yang mau tahu kenapa. Yang penting : TIDAK MASUK.
Seperti biasa setiap berada di toko
buku aku dan Jarnika akan berpisah. Jarnika akan langsung menuju ke bagian
novel sementara aku akan stuck dulu
di bagian biografi, baru berlanjut ke bagian novel.
Aku meneliti buku-buku itu satu
persatu berharap menemukan yang menarik. Biografi mantan presiden itu masih
sangat menggiurkan. Sayang harganya selangit untuk ukuran kantongku. Biografi
pemusik, pahlawan, politikus. Aku berjalan pelan ke rak sebelahnya, sambil
membaca pelan judul-judul buku itu.
Tidak menemukan yang menarik (dan
murah) aku pun melangkahkan kakiku ke bagian novel menghampiri Jarnika yang
sudah terlihat. Lalu aku percepat langkahku. Saat sedang berjalan itulah, ada
seseorang berjalan di sebelahku. Karena sambil mengetik sesuatu di handphone-nya ia berjalan sedikit oleng
dan hampir menabrakku. Kontan ia mengangkat kepalanya dan ini yang membuatku
terkejut.
“Bisakah
kusebut ini kebetulan?” kataku dalam hati. Hanya butuh beberapa detik saja aku
melongo karena orang itu pun sekarang sudah memandangku tak kalah kagetnya.
“Acel ??” tanyanya dengan wajah
bodoh. Sangat bodoh sampai aku ingin tertawa.
“Hai Nathan. Kita ketemuuuu
lagiiiii...” lalu aku tertawa sangat bersemangat bercampur geli karena
kebetulan ini.
“Sama siapa?”
“Sama temanku, itu yang disana.”
Jawabku sambil menunjuk ke arah Jarnika yang sudah berjalan ke arahku.
“Eh
ayo aku kenalin sama temanku.” Aku memanggil Jarnika, ia pun datang dengan sedikit
bingung.
“Nik,
Ini Nathan. Salah satu teman dadakan aku. Kemarin ketemu gitu disini.” Aku
mencoba menjelaskan dengan singkat pada Jarnika agar wajah bingungnya itu bisa
sedikit dihilangkannya.
“Wah,
Cel. Gila ya, udah berapa aja tuh teman dadakan mu, Cel? Tanya Jarnika sambil
mengulurkan tangannya ke arah Nathan.
“Aku
Nathan. Apa itu teman dadakan?” tanyanya bingung.
Sambil
tergelak aku menjawab, “Iya, Nath. Tiap orang yang aku kenal di toko buku kan
biasa jadi temenan tuh sama aku. Aku bilang aja teman dadakan. Lucu sih. Sama
nih kayak sama Jarnika. Dia juga aku kenal di toko buku dan masih sahabatan
sampai sekarang. Dan jawabanku itu seperti membuat Nathan memandang aku dan
Jarnika lalu tertawa.
Singkat
cerita hari itu akhirnya aku mengajak Nathan gabung bersama ku dan Jarnika.
Kami
makan di Lalove Cafe. Salah satu tempat favoritnya Jarnika. Kami bertiga
seperti panci yang menemukan tutupnya. Klop sekali.
Dan saat pulang, Nathan sempat
menanyakan nomor handphone-ku. Jelas
saja ia menanyakan nomor handphone.
Karena aku bukanlah salah satu pengguna smartphone
yang sedang marak itu.
***
Semenjak hari itu aku dan Nathan
beberapa kali berkomunikasi. Bukan jenis komunikasi yang kau pikirkan. Kami
hanya smsan dan membicarakan buku dan penulis. Paling diselingi dengan obrolan
kami tentang kegiatan menulis yang sedang aku kerjakan. Terkadang kami janjian
untuk ketemu bertiga. Aku, Jarnika dan Nathan. Di toko buku itu tentunya.
Nathan ternyata tidak seumuran denganku dan Jarnika. Dia setahun diatas kami, dan
sekarang ada di semester 5.
***
“Acel.” Ketukan di pintu kamarku
seketika membuyarkan lamunanku. Kuletakkan pelan foto itu kembali di meja
samping tempat tidurku dan bergegas membukakan pintu. Ayahku ada disana dengan
wajah letihnya.
“Ayah? Ayo sini masuk, Yah. Acel gak
lagi ngapa-ngapain kok.” Ajakku sambil menarik tangannya masuk.
Menjadi anak tunggal sekaligus hidup
hanya berdua dengan ayah selama beberapa tahun kontan menjadikanku sangat dekat
dengan ayah. Dan ayah sangat memanjakan aku. Bukan memanjakan dengan cara
memberikan apa saja yang aku minta, tapi ia akan selalu ada di sampingku.
Menggantikan perhatian-perhatian kecil yang biasa diberikan ibu yang tidak
biasanya seorang ayah lakukan. Sejak ibu meninggal, ayah memang menjadi sedikit
penyendiri. Tidak dapat aku bayangkan bagaimana hancurnya hati ayahku
kehilangan ibu. Dan itu menjadikanku anak yang mandiri. Paling tidak aku akan
sangat berusaha tidak menambah sedih di hatinya.
Ayah bekerja di salah satu perusahaan
swasta di bidang produksi kertas. Dan dengan itulah dia berusaha membiayai
hidup kami. Kuliahku dan sehari-hari kami di rumah. Jika ada bonus atau
tambahan gaji, aku akan diberikan ayah sebagian dan lalu kami akan bersama-sama
makan ke luar menikmati udara malam sekaligus melepas sepi di rumah.
Malam itu ayah tidak berkata banyak.
Hanya menanyakan kuliahku dan menanyakan hal-hal biasa lainnya. Tadinya ia
bersikap biasa saja, sampai pandangan matanya tertuju ke foto yang terbingkai
figura coklat kayu disamping tempat tidurku. Yang tadi kuletakkan saat akan
membuka pintu. Foto ibuku. Dan, malam itu aku melihat lagi mata kehilangan
ayah, tepat di depan mataku sendiri.
***
6 bulan berlalu dan sekarang aku
berada di sebuah talkshow dengan
seorang penulis sebagai bintang tamu sekaligus pembicaranya. Aku tidak sendiri.
Aku bersama dua sahabatku. Jarnika dan Nath. Sekarang kami bertiga sering kali
bersama-sama. Dan Nath pun resmi menjadi bagian dari kami. Dan penggila baca
seperti kami bertiga, akan sangat tidak mungkin melewatkan event-event macam ini yang tentunya sangat jarang diadakan di kota
kami ini. Dan ini akan sangat berguna untuk menambah ilmu menulis kami yang
masih sangat amatiran ini. Apalagi aku dan Nath sedang mencoba menulis suatu
naskah novel berdua.
“Ini minuman kalian, nih.” Suara
cempreng Jarnika terdengar sambil menyerahkan minuman yang baru saja ia beli di
stand minuman di luar gedung tempat diadakannya talkshow ini. Aku hendak
menyerahkan minuman itu kepada Nathan, tapi aku sempatkan membuka tutup cup
nya.
“Nath, ini Jeruk. Kamu gak
bisa,kan?” tanyaku sambil membuka tutup cup
punyaku. Mangga.
“Nih kamu yang ini aja deh.” kataku
sambil menyerahkan minuman yang semula untukku, padanya.
“Eh iya sorry Nath. Aku lupa kamu gak bisa Jeruk ya. Maaf, Nath.” Jarnika
terdengar sangat menyesal. Bahkan kalau kuperhatikan wajahnya memelas sekali,
mirip tokoh kartun beralis tebal itu jika sedang meminta maaf pada ibunya.
“Gak apa-apa, Nik. Aku suka juga kok
Mangga. Makasih ya, Nik. Makasih juga,Cel. Baik, deh.” tawa Nath menenangkan
Jarnika, sambil mengacak pelan rambutku.
Dadaku berdesir. Bukan pertama
kalinya Nath begini, tapi jantungku seakan mencelos tiap kali dia melakukannya.
Mungkin dia tidak menyadarinya. Tapi, bukan hanya persahabatan aku dan Jarnika
lah yang ia masuki. Tapi juga hari-hariku. Dan hatiku. Entah sejak kapan tapi
aku akhirnya sadar aku menyukainya. Aku tidak hanya menganggapnya sahabat atau
kakak seperti yang Jarnika lakukan. Aku memandangnya lebih dari itu. Yang pasti
aku tidak mau dia ataupun Jarnika tahu. Aku tidak ingin merusak sedikitpun
bagian dari persahabatan kami.
***
“IBUUU....!”
Terengah-engah nafasku memburu naik
turun. “Sial, mimpi buruk.” Gumamku pelan. Aku memimpikan ibu. Melihatnya
datang ke kamarku tapi saat sudah mendekat ia malah pergi dan menjauh.
Menyedihkan sekali. Aku sangat merindukan ibu. Tanpa sadar, aku melihat seisi
kamar. “Ibu datang lihat aku ya?” desahku pelan sambil menahan airmataku yang
siap terjatuh.
Malam
ini hujan deras sekali. Aku sangat membenci hujan. Karena saat hujan lah aku
kehilangan ibu.
Hari
itu aku dan ayah kehilangan Ibu. Hujan deras dan petir menggelegar. Seakan mengisyaratkan
teriakan hatiku yang memberontak. Setiap bulir hujan itu seperti mengalirkan
empati di tiap tetesannya. Sakit sekali. Sejak saat itu, setiap hujan datang, aku
seperti merasakan sakit itu kembali.
***
Sekarang aku memiliki kegiatan baru.
Mengisi Diary. Ya ya aku tau itu sangat kekanak-kanakan tapi
menurutku cukup ampuh juga. Mengingat aku tidak bisa menceritakan perasaan yang
kurasakan pada Nath, kepada Jarnika. Aku juga tidak mungkin menceritakan
tentang rinduku ke ibu pada ayah. Atau ke Jarnika. Tidak. Aku tidak mau
kelihatan lemah di hadapan siapapun.
Dear
diary...
Hanya 2 kata magis itu mampu
menarikku ke dunia yang berbeda. Membobol benteng pertahananku. Disini aku bisa
menuliskan semua keresahan, kesedihan, maupun bahagia yang aku rasakan.
***
Hari ini tumben-tumbenan Nath
mengajak aku dan Jarnika jalan-jalan. Dan herannya dia malah berjanji
mentraktir kami berdua. Padahal, biasanya kami minta traktir minum saja dia
tidak mau. Uangnya selalu habis untuk membeli buku dan buku.
Itu sejam yang lalu.
Sekarang
yang ada di depanku adalah wajah sumringah Nath dan teriakan tertahan Jarnika.
Semu merah di wajah Nath hari ini tidak akan bisa aku lupakan.
“Aku baru jadian, nih.” Suara riang
Nath timbul tenggelam di telingaku. Jantungku seakan berhenti berdegup. Bahkan
aku tidak bisa membayangkan seperti apa wajahku tadi. Sampai-sampai aku tidak
ingat bagaimana aku menanggapi cerita Nath tadi. Aku hanya berjalan, walaupun
kakiku lemas. Canda-candaan Jarnika dan Nath terdengar samar-samar, sampai Nath
menepuk bahuku.
“Heh, kamu kenapa, Cel. Dari tadi
mukanya kayak beda deh. Sakit, bukan?”
Gelagapan
aku berusaha menutupi keterkejutanku. Tertawa bahkan di telingaku sendiri
terdengar munafik.
Jarnika baru saja dijemput ayahnya
pulang sedangkan aku akan diantar oleh Nath dengan motornya. Dinginnya udara
malam menusukku hingga ke tulang. Tanpa sadar ku ulurkan tanganku menyentuh
pinggang Nath. Entah ada apa tapi Nath menarik tanganku untuk memeluk
pinggangnya. Hatiku mencelos. Tapi ku abaikan. Biarlah malam ini untuk pertama
kalinya, aku sedekat ini dengan Nath.
***
Sejak Nath jadian dengan cewek itu
-kata Jarnika namanya Tara-, otomatis waktu jalan bertiga kami pun berkurang.
Apalagi Tara sekampus dengan Nath. Tentu waktu-waktu Nath akan semakin sering
terpakai berdua dengan Tara dibanding denganku dan Jarnika. Dan rutinitas kami
pun seperti kembali lagi seperti dulu sebelum kami bersahabat dengan Nath.
Dering “bip-bip” pelan berbunyi di handphone ku, menandakan ada sms yang
masuk.
Kubaca
dengan malas dan bibirku langsung terangkat di sudut kiri dan kanannya.
Tersenyum.
Nath
besok mengajak aku dan Jarnika ke toko buku langganan kami. Aku bersemangat.
Setidaknya bertemu. Sebagai sahabat pun tak apa.
***
“Itu Nath..!” tunjukku kearah bagian
buku traveller. Dengan langkah cepat
aku dan Jarnika berjalan menghampiri Nath sekaligus ingin mengejutkannya.
Semakin dekat. Tanganku sudah terangkat untuk menepuk bahunya. Dan saat itulah
aku melihat cewek itu. Ya. Siapapun dia. Cantik. Dan tangan Nath memegangnya
erat. Kurasa itu Tara.
Tak sampai beberapa detik, Nath
berbalik memandang aku dan Jarnika. Dadaku terasa menggembung ingin meledak. “apa-apaan
ini” pikirku. Aku berusaha mati-matian memaksa
bibirku untuk tersenyum. Sekilas aku melihat raut wajah Nath yang berbeda.
Entahlah tapi aku merasa dia tahu apa yang aku rasakan. Tidak. Dia tidak
mungkin tahu. Jarnika seperti biasa mengambil alih percakapan dan langsung
tertawa-tawa meledek Nath. Dan tatapan mata kami –yang-entah-apa-artinya-itu-
pun terhenti. Sedikit rasa lega menyelimuti tengkukku. Mata Nath sangat. Aneh.
***
Disinilah aku. Aku, Jarnika, Nath,
dan Tara. Ya. Kau tidak salah dengar. Dengan Tara. Jauh melewati rasa cemburuku
melihat cewek itu dengan Nath, sebenarnya Tara adalah teman yang menyenangkan.
Dia bisa masuk dengan percakapan kami meskipun sebenarnya baru kali ini bertemu
aku dan Jarnika.
Secara lambat laun aku pun mencoba
mengerti. Aku sahabat Nath. Dan cewek cantik ini tentu sangat ingin masuk ke
pergaulan Nath juga. Aku mengerti. Sambil mendengar Jarnika dan Tara bercerita,
aku memandang Tara. Dia sangat cantik. Rambutnya pirang bergelombang. Caranya
berpakaian simple. Tapi cantik. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi tidak
pesek juga. Sepertinya anak yang pintar. Tiba-tiba aku merasa minder. Wajar
saja Nath lebih tertarik dengannya. Sampai-sampai tidak melihat aku. Apalagi
aku terlanjur dicap sebagai adiknya, sahabatnya, apapun itu yang pasti bukan
pacarnya. Sedikit airmata mulai berkumpul di kelopak mataku. Cepat-cepat aku
memalingkan wajahku dan betapa terkejutnya aku melihat Nath sedang
memandangiku. Tidak. Mata itu lagi. “sial.” Desahku dalam hati.
***
Hari ini Minggu pagi angin puyuh
membawa si bawel Jarnika ke rumahku. Tidur pagi ku langsung terganggu dengan suara cemprengnya.
Ayah hanya tertawa kecil melihatku dan Jarnika yang sekarang malah sedang
perang bantal. Dia bukan hanya memaksaku bangun tapi juga menodongku untuk
memasak makanan favoritnya. Pizza Mie. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan
ini. Hanya Mie Instan yang direbus dengan bumbu-bumbunya. Lalu, angkat,
tiriskan airnya, dan masukkan telur yang sudah dikocok. Jumlah telurnya sesuai
keinginanmu, biasa sekitar 1-2 butir. Lalu masukkan ke wajan yang telah
dipanaskan. Kau tinggal menggoreng dan menunggunya hingga kecoklatan, dan
setelah matang potong menyerupai Pizza. That’s
it. Dan itu adalah resep andalan ibu apabila aku sedang tidak nafsu makan.
Sambil berceloteh riang, Jarnika pun
makan dengan lahapnya. Padahal dia mengaku di rumah sudah sarapan. “Dasar perut
karet.” Cibirku yang hanya ditanggapinya dengan acuh tak acuh.
Kami baru saja selesai sarapan dan
kurasa demi alasan kemanusiaan aku harus segera mandi. Aku mengambil peralatan
mandiku dan meninggalkan Jarnika di kamar. Seperti biasa, anak itu sibuk
melihat-lihat judul novelku dan membaca-baca novel yang dianggapnya menarik.
Sekitar 20 menit aku sudah selesai dan kembali ke kamar. “aah... segarnya..”
gumamku pelan. Baru saja aku menekan gagang pintu dan yang kudapati adalah : diaryku. Ditangan Jarnika. Sedang dibaca.
Dengan mimik wajah bertanya memandang ke arahku. Aku
tahu cepat
atau lambat semua akan terbongkar. Tapi niatku tidak dengan cara seperti ini.
Alis Jarnika terangkat. Saatnya aku memberikan penjelasan. Kulangkahkan kakiku
dan kuhela nafas dalam.
Perlahan semua cerita itu meluncur
dari mulutku. Dari awal hingga sekarang. Kupasrahkan saja semuanya pada Jarnika.
Berharap Jarnika bisa menutup mulut tentang ini.
Sedikit
airmata menetes di pipiku yang segera aku hapus dan kututupi dengan tawa kecil.
Setelah selesai bercerita aku diam, menunggu reaksi Jarnika apapun itu. Dan
respon Jarnika rasanya merontokkan seluruh tubuhku.
“Kamu bodoh banget, Cel. Dulu Nathan
itu suka sama kamu. Tapi, karena kamu gak kelihatan merespon dan Nathan pun
takut yang ada perasaannya malah membuyarkan persahabatan kita, Nathan pun
nyoba buat move on dari kamu. Awalnya katanya susah. Tapi akhirnya ya itu dia,
Tara datang. Benar-benar di saat yang tepat.”
Aku tidak tahu apa yang kurasakan.
Aku benar-benar tidak pernah menangkap sinyal Nath. Dan mengapa Tara datang di
saat sekarang. “Gak adil. Ini gak adil. Hatiku seketika memberontak. Tara
mengambil Nath dariku.” Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.
***
Jarnika, Nath, Aku dan Tara.
Lagi-lagi formasi ini. Entah ide siapa tapi kami bertiga ditambah Tara tentunya
akhirnya bertemu di foodcourt ini. Sambil
asyik mengobrol, aku memperhatikan Nath. Tawanya. Poninya yang berjatuhan di keningnya.
Suaranya. Sungguh tidak adil Tara memiliki semua yang seharusnya jadi milikku.
Aku sibuk dengan pikiranku sendiri sampai tiba-tiba Tara memegang tanganku.
Sedikit tersentak, aku menoleh.
“Aceeeel, temenin aku ke toilet
yuk.” Rengeknya. Yang membuat sedikit hatiku melengos.
Masih setengah jalan kami menuju ke
toilet Tara membuka obrolan.
“Cel, kamu tau gak Nathan sukanya
buku yang kayak gimana? Aku pengen beliin dia buku nih. Sekalian Cel, temenin
aku yuk minggu depan. Sekalian tuh kamu rekomendasiin buku yang bagus. Aku
pengen nyoba baca juga, Cel. Biar Nath seneng deh.” Tawanya mengiris hatiku.
“Oh iya. Gampang, Tar. Nanti aku
temenin.” Aku menjawab pelan. Berusaha menampilkan senyum terbaik.
Saat Tara masuk ke bilik toilet itu
aku tercenung. Dia begitu menyayangi Nath. Dia berusaha melakukan apa yang Nath
suka. Apa tidak jahat kalau aku merusaknya? Aku sangat tahu rasanya melihat
orang yang kita suka atau kita sayang pergi dengan cewek lain. Apa aku tega
membuat cewek lain merasakan itu? Mendadak aku malu. Malu sekali. Tara tidak
merebut Nath. Semua memang sudah takdir dan yang aku bisa hanyalah menerima.
Tapi sungguh menyakitkan melihat semua ini. Kurasa aku hanya butuh waktu.
***
Aku baru akan duduk kembali di kursiku,
saat kulihat tatapan Nath mengarah tajam kepadaku. Menutupi kebingunganku, aku
pura-pura berceloteh tentang novel-novel yang baru terbit pada mereka.
***
Tiga minggu berlalu sejak pertemuan
terakhir kami itu. Dua minggu lalu aku menemani Tara ke toko buku dan melihat
antusiasme di wajahnya aku sungguh tidak tega. Lagipula belum tentu Nath masih
menyukaiku, kan? Aku melamun hingga tiba-tiba terdengar petir menggelegar.
Pertanda hujan. Aku benci hujan. Aku merasa hujan itu selalu membawa aura
kesepian. Aku menaiki tempat tidur dan menarik selimutku. Rasanya baru beberapa
detik mataku terpejam saat handphone-ku
berbunyi. Sebuah pesan masuk. Nama “Nath” tertera di layarnya. Dan itu sedikit
membuatku heran.
Sender : Nath
Bs keluar sebentar? Aku di depan
rumahmu, Cel.
Keningku
berkerut. Kulirik dengan cepat jam di dinding. Jam setengah sembilan. Belum
terlalu malam sih. Tapi aneh karena tiba-tiba. Aku bergegas keluar. Untungnya
ayah sudah masuk ke kamarnya sehingga aku bisa langsung keluar rumah. Hujan
deras menyambutku. Nathan memang ada disana. Dan basah kuyup.
“Ada apa, Nath? Kenapa tiba-tiba sih. Mau minjem buku? Yaelah
besok kan bisa. Ckckck” aku mengakhiri omelanku dengan berdecak heran.
“Benar kata Jarnika, kamu suka sama
aku?” tanyanya tajam dengan tubuh setengah menggigil.
Jantungku berhenti seketika. Ini hal
terakhir yang aku ingin Nath tahu. Dalam hati aku mengutuk Jarnika. Aku ingin
mengeluarkan kata-kata apa saja untuk membantah perkataan Nath tapi bahkan
mulutku tidak bisa terbuka.
Nath mencengkram bahuku. Memaksa mataku
melihat ke wajahnya.
“Kurasa Jarnika sudah mengatakannya
padamu, kan. Aku juga menyukaimu, Cel. Aku memaksakan diriku melupakanmu karena
kukira kau tidak merasakan apa yang kurasakan.”
Hatiku bergejolak. Ini yang
kuinginkan. Tapi sesuatu melarangku mengatakan yang sebenarnya.
“Tara...” desahku. Hanya itu yang
bisa aku ucapkan.
“Tara datang di saat aku benar-benar
ingin melupakanmu, Cel. Aku pikir dengan ada Tara aku bisa mengalihkan
perasaanku darimu.” Suara Nath lirih.
Tiba-tiba sekelebat bayangan Tara
melintasi otakku. Wajah gembiranya. Cara dia menganggap aku dan Jarnika
sahabatnya. Tara yang mau mencoba membaca hanya agar Nath senang. Tidak. Aku
tidak akan pernah tega melakukannya. Setidaknya kalaupun mereka putus, itu
bukan karena aku.
Entah datang darimana seluruh
kekuatan itu, tapi aku mengangkat wajahku dan menatap mata Nathan.
“Nath, Jarnika benar soal itu.”
Kubiarkan jeda beberapa detik sekedar meyakinkan perasaanku sendiri. “Tapi itu
dulu, Nath. Sebelum kau memutuskan bersama Tara, aku sudah menghapus perasaanku
padamu.” Aku mulai terisak. “karena kupikir, aku hanya menyukaimu sebagai
sahabat.”
Rahang Nathan mengeras. Sebersit
luka terlihat di matanya.
“Kau bohong, kan? Tapi Jarnika
bilang...”
Belum
selesai Nathan berbicara aku memotong perkataanya setengah berteriak. “JARNIKA
TIDAK TAHU. AKU YANG TAHU, NATH !”
Setengah putus asa aku mulai
menangis. “Kumohon, Nath. Jangan mempersulit aku. Pergilah. Kumohon Nath.” Aku
terus mengucapkan kata-kata itu dalam hati.
Beberapa detik berlalu, dia masih
disana. Masih dengan tatapan mata itu. Hujan masih menderu. Mengalirkan empati
di tiap bulirnya.
“Aku tidak percaya kau mengatakan
ini. mengapa kau tipu dirimu sendiri, Cel?” lirih suaranya terucap. Dan dengan
gontai ditembusnya hujan deras itu. Pergi.
Sementara aku? Aku masih berdiri
disini. Rasa sesak menekan dadaku. Sungguh saat dikatakan patah hati, aku
seperti merasa memang ada yang patah di dalam dadaku. Rasanya sakit sekali.
Sungguh aku sangat berharap bisa memeluk tubuh menggigil itu tadi. Aku sangat
berharap tidak melihat luka di mata itu. Nath, andai kau tau rasanya, saat kita
harus melepaskan apa yang tidak ingin kita lepaskan. Tapi aku tahu, semuanya
akan lebih baik dibanding aku menjadi orang yang menyebabkan Tara terluka.
***
Aku
berusaha memperbaiki hatiku yang carut-marut sejak peristiwa itu. Aku mengambil
jarak dengan Nathan. Dan mengganti nomor handphone-ku.
Menolak tiap ajakan Jarnika untuk berkumpul bertiga lagi. Aku harus menghindar
sementara aku menata hatiku kembali. Sampai akhirnya aku mendengar kabar Nath
dan Tara sudah diterima lulus kerja di Jakarta. Jadi mereka akan berangkat
empat hari lagi. Jarnika mengantarnya, tapi aku tidak. Perasaanku tentu saja
masih ada. Akan semakin menyakitkan melihatnya pergi, dengan orang lain pula.
Aku memilih tidak melihatnya.
***
Semester
akhir mulai menyita waktuku dan Jarnika. Mata kuliah terakhir, ujian perbaikan,
penelitian untuk skripsi dan sebagainya. Aku bagai orang gila. Bahkan sudah
bisa dihitung berapa kali kami pergi bersama ke toko buku.
Sesekali
aku masih mendengar cerita Jarnika soal Nath dan Tara. Hebat. Mereka bisa
menjaga hubungan itu. Nath benar-benar beruntung. Tidak heran Jarnika masih
mengetahui kabar Nath. Mereka kerap kali komunikasi lewat bbm, walaupun tidak
intens.
Dan
hari ini, saat menunggu nasi goreng pesanan kami datang, lagi-lagi Jarnika
bercerita tentang Nath. Tentu saja ia tidak tahu bagaimana perasaanku terhadap
Nath sekarang. Dia mengira aku memang benar-benar telah melupakan Nathan.
“Nath
sama Tara katanya bentar lagi tunangan, loh. Masih rencana sih.” Katanya sambil
sibuk mengunyah telor dadar.
Dadaku
bergemuruh hebat. Kuabaikan. Kuabaikan hingga hari itu datang.
***
Undangan
itu ada di depan pintu. Tepat di depan pintu. Undangannya sangat menarik.
Huruf
emas yang terukir di bagian depan undangan itu membuat hatiku mencelos.
Nathanial
Hernandito & Tara Renata
Pandangan mataku mengabur. Sakit
sekali. Sudah bertahun sejak aku memutuskan melepaskannya mengapa hari ini aku
masih merasa sesakit ini. Airmataku jatuh tanpa bisa kucegah. Dan seluruh
nafasku seperti tertarik ke dalam. Sesak.
-The Limited Edition