Wednesday, September 4, 2013

aku dan kamu adalah hujan dan teduh
yang ditakdirkan berada di satu jalur yang sama
tapi bukan untuk berada ditempat yang sama

aku bukanlah pelangi yang bisa saja hadir saat hujan
yang bisa saja berada di satu tempat yang sama denganmu

kita adalah orang yang tidak tahu diri yang memaksakan satu demi satu
hal hal yang kita inginkan
kita bagaikan penangkap badai yang justru semakin mendekat ketika badai datang mendekat

entah harus bangga atau menyesal
telah menjadi seorang seperti ini
entah harus tertawa atau merasa bodoh
mengikatkan kaki dan tangan di ikatan yang salah

tidaklah seperti sepatu mahal yang solnya terekat kuat
tidaklah menyerupai baju mahal yang kainnya lembut

kita hanyalah perahu
yang terombang ambing di lautan hidup
yang bahkan tidak memiliki layar
kita bersama menunggu kemana angin membawa\

hidup

hidup adalah serangkaian kisah
kumpulan peristiwa dan harapan
baik yang terwujud ataupun yang akhirnya kandas

bukanlah lagi tawa sebagai pengukur kebahagiaan
dan bukanlah lagi tangis untuk menilai kesedihan
karena ternyata hal-hal tersebut begitu mudah dan sepelenya untuk di imitasikan

kekosongan yang menyergap
dan sepi yang mengigiti tulang-tulangmu
terkadang malah membuat menikmmati hidup

mimpi demi mimpi yang kandas
harapan demi harapan yang meluluhlantakkan hatimu
itu hanyalah bumbu penyedap rasa hari harimu

sungguh tidaklah perlu kau menjadi dia
mereka ataupun siapapun
karena hidup tidaklah sesepele yang kau pikirkan



Saturday, June 8, 2013

Tentang aku atau kamu ?

Saat kau datang kedalam hidupku beberapa tahun yang lalu, hemm sekitar dua tahun lalu mungkin, hidupku perlahan berubah.

Aku mulai menemukan arahku dan lantas mengikutinya.

Kau arah yang aku tuju, seluruh perhatianku bahkan tak lagi punya waktu untuk memikirkan yang lainnya.

Dan hatiku sudah cukup sibuk dan tak lagi sempat berdebar melihat lelaki yang lumayan tampan di seberang sana.

Kualihkan pandangan mataku ke sebelah kanan,dan disanalah dadaku berdesir.
Berdebar.
Bergejolak.
Aku menjadi mual.
Rasanya seperti ada beberapa kupu-kupu terbang di dalam perutku.

Kau berjalan dengan langkah mantapmu, semantap yakinnya aku dengan perasaanku ini.
Kau lalu duduk di depanku, kita bercanda dan saat itu kita tertawa bersama.
Seperti biasa.

Kau tahu,
Sudah cukup lama aku terperangkap dalam topeng bernama sahabat ini.
Udara jakarta kini semakin panas dan rasanya sudah saatnya kulepas topeng ini.

Tiba-tiba tawa kita berhenti dan kau mulai mengucapkan cerita yang memupus harapanku.

"Kau tau, Bell? aku menyukai seorang gadis." kau memulai mimpi buruk itu dengan wajah bersemu merah.

"hmm, Silvana. Entahlah aku tau kita bertiga telah bersahabat tapi entah mengapa sepertinya perasaanku menjadi lain."

Saat itu seluruh kesedihan menyelimuti tubuhku.
Sampai-sampai mulutku tertutup dan tak bisa kubuka walaupun telah kupaksa.
Aku seperti korban mogok makan saja.

Tentu saja aku tahu Silvana. Setiap kita jalan bersama, aku ada di sebelah kiri, dan Silvana di sebelah kananmu.
Saat kita makan bersama,
aku ada di depanmu dan Silvana duduk di sebelahmu.
Tentu saja aku tau
itu, Alvin
Dia juga sahabatku.

Hari ini terlalu cepat datang.
Hal-hal buruk seolah selalu ingin cepat menuntaskan pekerjaannya.
Bahkan tanpa bertanya si korban bersedia atau tidak.

Hari saat kau jadian dengan Silvana, harapanku terkikis habis. Sakit demi sakit aku telan dalam-dalam berharap tidak akan muncul lagi walau hanya sedikit.
Aku memang seorang munafik.
Yang menyunggingkan senyum palsu kepada kalian, sahabatku.

Seolah belum puas, aku malah seperti mendapat level bonus di game "hal-hal buruk" ini.
Hari ini kau mengajakku ikut serta di hari bahagiamu.
Melamar silvana.

Bolehkan aku memintamu membunuhku saja ?

Kau adalah arah yang menarikku dari gelap membawaku ke tempat yang
lebih terang.
Kaulah arah yang aku tuju, disaat kau sedang menuju kearah
yang lain..

Silahkan sebut saja aku si pemalas, yang bahkan terlalu malas memaksa hatiku untuk melupakan mu.

-The Limited Edition

Thursday, June 6, 2013

Aku..

Darah mengucur pelan
Perih mulai terasa di tanganku
Aku tak peduli
Tak pagi peduli

Ingatanku masih sempat melayang
Kembali terputar saat itu
Saat kata demi kata merobek robek jantungku
Menyerap semua oksigen di sekitarku

Membuatku sesak
Dan sakit

Aku bukanlah sesuatu sempurna yang bisa menjadi apapun yang kau mau
Bukanlah pelangi yang indah yang muncul saat hujanmu mereda

Aku hanyalah uap panas kopi yang ada saat masih panas dan sekejap hilang saat mulai kau sesap

Aku hanyalah wangi ,pewangi pendingin ruangan murahan yang hanya berfungsi beberapa hari saja

Aku bukanlah jawaban atas mimpimu
Bukanlah jalan terang atas kegelapanmu
Meski aku mencoba
Atau..
Sebenarnya aku belum mencoba?

Belum lagi sempat aku mengkoreksi pendapatku sendiri,
Pandanganku lantas memudar.
Menggelap.
Dan.. Hilang.

-The Lmited Edition

Friday, May 31, 2013

Bukan Perindu Lainnya

Aku dan rindu
Bagai tanpa batasan
Menempel erat
Layaknya saudara kembar siam

Aku adalah perindu
Yang tak akan melangkah mencarimu
Yang tak akan berlelah-lelah menatapmu
Atau sekedar menunggumu

Aku adalah perindu
Yang tak berharap kau temukan
Perindu yang bersembunyi
Dan tak akan pernah muncul

Aku adalah perindu
Yang tidak menanam harapan untuk dilihat atau didengar

Aku adalah perindu
Yang ingin untuk kau lupakan
Yang ingin untuk kau jauhi
Dan tidak berharap kau ingat

Aku.. Bukanlah seperti perindu lainnya.

-The Limited Edition

Sunday, May 19, 2013

Seorang yang belum sempat aku kenal

Pagi ini
Aku berada di tempat yang sama dengan bertahun-tahun lalu
Dimana aku melihatmu kala itu
Melukis rusa dan taman ini
Memindahkan gambar visual dari mataku ke dalam buku sketsamu

Hari itu terik sekali dan aku menjadi mudah emosi
Tetapi kau tau saja taktik meredakan amarahku
Kau tidak tau apa-apa tentangku
Dan aku yakin saat itu kau hanyalah seorang penebak yang kebetulan jitu

Aku bukanlah seorang yang mudah menerima perkenalan diri seseorang
Mungkin diriku yang terlalu tertutup, dan memengapkan
Atau auraku terlalu membosankan
Entahlah
Tapi hari itu tak urung kusambut perkenalan dirimu

Kulirik pergelangan tanganmu dan kulihat tato jadi-jadian disana
Bergambar Barbie.
Sekejap kusimpulkan kau pasti kekanak-kanakan
Kupandangi ponimu yang jatuh dengan awut-awutan di dahimu
Ah, kau juga tidak rapi.

Hari berlalu dan kedatanganku ke sini tak lagi bisa tenang
Setiap aku kesini dan kau kebetulan ada di seberang sana kau akan mendatangiku
Dan lantas mengoceh bagaikan robot yang sudah disetting sedemikian rupa
Terkadang aku heran, apakah energimu tidak habis berbicara begitu banyak?

Waktu berjalan pelan mengiringi
Hari itu aku sendirian disana dan kau tak ada
Aku bersorak dalam hatiku
Dalam beberapa menit kemudian sorakanku lenyap
Dan aku menyadari betapa ternyata aku kehilangan ocehanmu
Betapa taman ini terasa sunyi sekali hari ini
Hanya aku dan seorang kakek tua pengurus taman itu

Kesunyian taman kecil itu berlanjut hingga beberapa hari ke depan.
Entah bagaimana rasanya aku merindukan mu
Entah bagaimana pula akhirnya aku malah berbicara dengan kakek si pengurus kebun

Terkadang aku merasa dunia terlalu mengambil alih daya kerja takdir
Bahkan aku merasa takdir terlalu humoris sehingga suka mempermainkan semesta
Kakek itu mengantarkan aku ke sebuah rumah yang masih dipenuhi bunga papan yang norak
Dan aku tidak tahu siapakah orang malang ini hingga dia mengatakan itu kau.

Sebuah kecelakaan kecil yang seharusnya tidak terlalu melukaimu
Nyatanya telah diubah kinerjanya oleh sang takdir
Kau terengut dan tidak lagi bisa datang ke taman itu
Kau disana. Ada fotomu disana. 
Dan tanpa sadar aku bergumam membaca sederetan nama...
Chintya....Emeralda

Kuhela dalam nafasku.
Dan kupandangi lagi tempat ini.

Aku hanyalah seorang yang belum terlalu mengenalmu, semoga lain waktu.
Atau di lain dunia.

Perkenalkan, aku Rengga Distyo.

-The Limited Edition