Wednesday, September 4, 2013

aku dan kamu adalah hujan dan teduh
yang ditakdirkan berada di satu jalur yang sama
tapi bukan untuk berada ditempat yang sama

aku bukanlah pelangi yang bisa saja hadir saat hujan
yang bisa saja berada di satu tempat yang sama denganmu

kita adalah orang yang tidak tahu diri yang memaksakan satu demi satu
hal hal yang kita inginkan
kita bagaikan penangkap badai yang justru semakin mendekat ketika badai datang mendekat

entah harus bangga atau menyesal
telah menjadi seorang seperti ini
entah harus tertawa atau merasa bodoh
mengikatkan kaki dan tangan di ikatan yang salah

tidaklah seperti sepatu mahal yang solnya terekat kuat
tidaklah menyerupai baju mahal yang kainnya lembut

kita hanyalah perahu
yang terombang ambing di lautan hidup
yang bahkan tidak memiliki layar
kita bersama menunggu kemana angin membawa\

hidup

hidup adalah serangkaian kisah
kumpulan peristiwa dan harapan
baik yang terwujud ataupun yang akhirnya kandas

bukanlah lagi tawa sebagai pengukur kebahagiaan
dan bukanlah lagi tangis untuk menilai kesedihan
karena ternyata hal-hal tersebut begitu mudah dan sepelenya untuk di imitasikan

kekosongan yang menyergap
dan sepi yang mengigiti tulang-tulangmu
terkadang malah membuat menikmmati hidup

mimpi demi mimpi yang kandas
harapan demi harapan yang meluluhlantakkan hatimu
itu hanyalah bumbu penyedap rasa hari harimu

sungguh tidaklah perlu kau menjadi dia
mereka ataupun siapapun
karena hidup tidaklah sesepele yang kau pikirkan



Saturday, June 8, 2013

Tentang aku atau kamu ?

Saat kau datang kedalam hidupku beberapa tahun yang lalu, hemm sekitar dua tahun lalu mungkin, hidupku perlahan berubah.

Aku mulai menemukan arahku dan lantas mengikutinya.

Kau arah yang aku tuju, seluruh perhatianku bahkan tak lagi punya waktu untuk memikirkan yang lainnya.

Dan hatiku sudah cukup sibuk dan tak lagi sempat berdebar melihat lelaki yang lumayan tampan di seberang sana.

Kualihkan pandangan mataku ke sebelah kanan,dan disanalah dadaku berdesir.
Berdebar.
Bergejolak.
Aku menjadi mual.
Rasanya seperti ada beberapa kupu-kupu terbang di dalam perutku.

Kau berjalan dengan langkah mantapmu, semantap yakinnya aku dengan perasaanku ini.
Kau lalu duduk di depanku, kita bercanda dan saat itu kita tertawa bersama.
Seperti biasa.

Kau tahu,
Sudah cukup lama aku terperangkap dalam topeng bernama sahabat ini.
Udara jakarta kini semakin panas dan rasanya sudah saatnya kulepas topeng ini.

Tiba-tiba tawa kita berhenti dan kau mulai mengucapkan cerita yang memupus harapanku.

"Kau tau, Bell? aku menyukai seorang gadis." kau memulai mimpi buruk itu dengan wajah bersemu merah.

"hmm, Silvana. Entahlah aku tau kita bertiga telah bersahabat tapi entah mengapa sepertinya perasaanku menjadi lain."

Saat itu seluruh kesedihan menyelimuti tubuhku.
Sampai-sampai mulutku tertutup dan tak bisa kubuka walaupun telah kupaksa.
Aku seperti korban mogok makan saja.

Tentu saja aku tahu Silvana. Setiap kita jalan bersama, aku ada di sebelah kiri, dan Silvana di sebelah kananmu.
Saat kita makan bersama,
aku ada di depanmu dan Silvana duduk di sebelahmu.
Tentu saja aku tau
itu, Alvin
Dia juga sahabatku.

Hari ini terlalu cepat datang.
Hal-hal buruk seolah selalu ingin cepat menuntaskan pekerjaannya.
Bahkan tanpa bertanya si korban bersedia atau tidak.

Hari saat kau jadian dengan Silvana, harapanku terkikis habis. Sakit demi sakit aku telan dalam-dalam berharap tidak akan muncul lagi walau hanya sedikit.
Aku memang seorang munafik.
Yang menyunggingkan senyum palsu kepada kalian, sahabatku.

Seolah belum puas, aku malah seperti mendapat level bonus di game "hal-hal buruk" ini.
Hari ini kau mengajakku ikut serta di hari bahagiamu.
Melamar silvana.

Bolehkan aku memintamu membunuhku saja ?

Kau adalah arah yang menarikku dari gelap membawaku ke tempat yang
lebih terang.
Kaulah arah yang aku tuju, disaat kau sedang menuju kearah
yang lain..

Silahkan sebut saja aku si pemalas, yang bahkan terlalu malas memaksa hatiku untuk melupakan mu.

-The Limited Edition

Thursday, June 6, 2013

Aku..

Darah mengucur pelan
Perih mulai terasa di tanganku
Aku tak peduli
Tak pagi peduli

Ingatanku masih sempat melayang
Kembali terputar saat itu
Saat kata demi kata merobek robek jantungku
Menyerap semua oksigen di sekitarku

Membuatku sesak
Dan sakit

Aku bukanlah sesuatu sempurna yang bisa menjadi apapun yang kau mau
Bukanlah pelangi yang indah yang muncul saat hujanmu mereda

Aku hanyalah uap panas kopi yang ada saat masih panas dan sekejap hilang saat mulai kau sesap

Aku hanyalah wangi ,pewangi pendingin ruangan murahan yang hanya berfungsi beberapa hari saja

Aku bukanlah jawaban atas mimpimu
Bukanlah jalan terang atas kegelapanmu
Meski aku mencoba
Atau..
Sebenarnya aku belum mencoba?

Belum lagi sempat aku mengkoreksi pendapatku sendiri,
Pandanganku lantas memudar.
Menggelap.
Dan.. Hilang.

-The Lmited Edition

Friday, May 31, 2013

Bukan Perindu Lainnya

Aku dan rindu
Bagai tanpa batasan
Menempel erat
Layaknya saudara kembar siam

Aku adalah perindu
Yang tak akan melangkah mencarimu
Yang tak akan berlelah-lelah menatapmu
Atau sekedar menunggumu

Aku adalah perindu
Yang tak berharap kau temukan
Perindu yang bersembunyi
Dan tak akan pernah muncul

Aku adalah perindu
Yang tidak menanam harapan untuk dilihat atau didengar

Aku adalah perindu
Yang ingin untuk kau lupakan
Yang ingin untuk kau jauhi
Dan tidak berharap kau ingat

Aku.. Bukanlah seperti perindu lainnya.

-The Limited Edition

Sunday, May 19, 2013

Seorang yang belum sempat aku kenal

Pagi ini
Aku berada di tempat yang sama dengan bertahun-tahun lalu
Dimana aku melihatmu kala itu
Melukis rusa dan taman ini
Memindahkan gambar visual dari mataku ke dalam buku sketsamu

Hari itu terik sekali dan aku menjadi mudah emosi
Tetapi kau tau saja taktik meredakan amarahku
Kau tidak tau apa-apa tentangku
Dan aku yakin saat itu kau hanyalah seorang penebak yang kebetulan jitu

Aku bukanlah seorang yang mudah menerima perkenalan diri seseorang
Mungkin diriku yang terlalu tertutup, dan memengapkan
Atau auraku terlalu membosankan
Entahlah
Tapi hari itu tak urung kusambut perkenalan dirimu

Kulirik pergelangan tanganmu dan kulihat tato jadi-jadian disana
Bergambar Barbie.
Sekejap kusimpulkan kau pasti kekanak-kanakan
Kupandangi ponimu yang jatuh dengan awut-awutan di dahimu
Ah, kau juga tidak rapi.

Hari berlalu dan kedatanganku ke sini tak lagi bisa tenang
Setiap aku kesini dan kau kebetulan ada di seberang sana kau akan mendatangiku
Dan lantas mengoceh bagaikan robot yang sudah disetting sedemikian rupa
Terkadang aku heran, apakah energimu tidak habis berbicara begitu banyak?

Waktu berjalan pelan mengiringi
Hari itu aku sendirian disana dan kau tak ada
Aku bersorak dalam hatiku
Dalam beberapa menit kemudian sorakanku lenyap
Dan aku menyadari betapa ternyata aku kehilangan ocehanmu
Betapa taman ini terasa sunyi sekali hari ini
Hanya aku dan seorang kakek tua pengurus taman itu

Kesunyian taman kecil itu berlanjut hingga beberapa hari ke depan.
Entah bagaimana rasanya aku merindukan mu
Entah bagaimana pula akhirnya aku malah berbicara dengan kakek si pengurus kebun

Terkadang aku merasa dunia terlalu mengambil alih daya kerja takdir
Bahkan aku merasa takdir terlalu humoris sehingga suka mempermainkan semesta
Kakek itu mengantarkan aku ke sebuah rumah yang masih dipenuhi bunga papan yang norak
Dan aku tidak tahu siapakah orang malang ini hingga dia mengatakan itu kau.

Sebuah kecelakaan kecil yang seharusnya tidak terlalu melukaimu
Nyatanya telah diubah kinerjanya oleh sang takdir
Kau terengut dan tidak lagi bisa datang ke taman itu
Kau disana. Ada fotomu disana. 
Dan tanpa sadar aku bergumam membaca sederetan nama...
Chintya....Emeralda

Kuhela dalam nafasku.
Dan kupandangi lagi tempat ini.

Aku hanyalah seorang yang belum terlalu mengenalmu, semoga lain waktu.
Atau di lain dunia.

Perkenalkan, aku Rengga Distyo.

-The Limited Edition


Thursday, May 16, 2013

Yang Tidak Terkatakan


Pagi ini masih sama. Kicauan burung itu masih terdengar. Dan dinginnya masih menusuk. Tidak ada yang berubah dengan hariku kecuali sekarang aku benar-benar tidak lagi punya kesempatan bersamanya. Ya, selesai. Tanpa sadar air mataku menetes lagi. “Sial. Ini keputusanku harusnya aku bisa terima konsekuensinya!” runtukku dalam hati.
***
            Namaku Marcella. Tapi teman-teman biasa memanggilku Acel. Hari ini aku terlambat lagi tiba di Universitas Meditsa. Kampusku. Artinya, hari ini aku melewatkan mata kuliah Perilaku Organisasi, favoritku. Belakangan ini aku memang sering terlambat. Beberapa minggu ini kan lagi musim bola. Mana mau aku melewatkan pertandingan bergengsi semacam Euro Cup begini. Ya inilah hasilnya, hampir setiap pagi aku bangun terlambat. Ini malah sudah kedua kalinya di minggu ini. Sambil menghela nafas aku melangkahkan kakiku, hendak pulang. Tetapi di tengah perjalanan aku memutuskan singgah dulu ke toko buku. Karena sesuai tanggal, hari ini penulis favoritku launching novel ke-4 nya.
Kusebut tempat ini Heaven On Earth, karena memang bagiku seperti itulah toko buku ini terasa. Bukan hanya toko buku ini. Melainkan semua toko buku. Buku. Oke untuk beberapa orang buku terasa membosankan. Tapi bagiku tidak. Aku sangat menyukai buku. Mungkin aku adalah satu dari segelintir orang yang bisa otomatis menyunggingkan senyum saat baru memasuki toko buku. Aku sangat suka bau kertas-kertas itu. Aaaaaah.  Dan ya aku suka buku apa saja. Biografi, novel, kumpulan cerpen, apa saja.
            “Suka buku itu ya?” suara berat  khas laki-laki terdengar di sebelahku. Sedikit terkejut aku melihat ke arah suara itu. Disebelahku, aku menemukan lelaki yang lebih tinggi dariku. Mengenakan kaos hitam polos, kacamata berbingkai hitam, dan beberapa helai poni yang seperti jatuh dengan enggan ke dahinya.
            Aku sebenarnya tidak termasuk orang yang banyak bicara. Tapi lain halnya apabila topik pembicaraannya adalah buku. Aku bisa dengan tiba-tiba mengajak bicara orang disebelahku di toko buku hanya karena aku melihat orang itu memegang lalu meletakkan kembali buku yang menurutku pantas dikasih rate 5 stars.  Aku menjadi orang yang berbeda jika tentang buku. Kepribadian ganda, ejek teman-temanku. Mungkin lelaki ini seperti aku.
“Iya nih pengen beli satu buku aja karena uangku gak cukup, tapi aku bingung mau yang The Journeys 1 atau yang The Journeys 2. Aku nyariin kali aja ada yang udah kebuka biar bisa liat sebagian isinya dulu, tapi gak ada.” Jawabku sedih.
            Dia pun tertawa. “Ini aku kasih rekomend deh ya. Soalnya aku liat kamu udah berapa menit disitu cuma megang-megang dua buku itu aja dari tadi. Menurut aku, The Journeys 2 ini lebih seru. Karena dia nyeritain tentang Indonesia. Tempat-tempat bersejarah ada. Kebudayaan juga ada. Aku pribadi sih lebih suka ini.” Dia menjelaskan dengan panjang lebar tentang salah satu buku yang aku pegang.
            Dengan tersenyum kecil akhirnya aku mengangguk. “oke aku ambil The Journeys 2 deh. Ng... Makasih ya. Makasih banget.” ucapku ditambah dengan cengiran.
            “Sama-sama, sorry aku Nathan.” ujarnya sambil mengulurkan tangannya. Sejenak canggung menghinggapi diriku. Tapi kuulurkan tanganku, “hai Nathan. Aku Acel”
            Hari itu kami bercerita tentang buku ini dan itu. Membahas beberapa buku yang terletak di rak best seller. Sampai akhirnya 15 menit berlalu dan aku harus segera pulang. Dan akhirnya kami berpisah disana.

***

            Itu beberapa hari yang lalu. Nathan bukanlah satu-satunya teman dadakan –begitu aku menyebutnya- yang aku dapatkan di toko buku. Ada beberapa teman baik laki-laki maupun perempuan yang aku kenal berawal dari toko buku.  Ya, mayoritas perempuan. Dan beberapa diantaranya malah menjadi sahabatku. Jarnika salah satunya. Kami berkenalan di toko buku dan akhirnya saling bertukar nomor handphone. Dan dimulailah persahabatan kami, sejak SMA hingga sekarang. Apalagi kami berada di kampus yang sama. Dan sebutlah ini sesuatu yang sangat kebetulan. Kami ada di jurusan yang sama.
Jarnika adalah salah satu sahabatku yang menggilai buku. Hanya saja dia lebih memilih berkutat dengan bacaan novel-novel. Dan dia tidak akan segan-segan untuk memesan online semua novel-novel itu hanya agar bisa mendapatkan tanda tangan penulis favoritnya. Padahal bisa dikatakan ongkos kirim paket ke kota kami mahal. Diatas dua puluh ribuan. Berbeda denganku. Karena uang jajanku yang minim, aku hanya memesan online buku-buku yang memang tidak masuk ke toko buku kotaku. Tapi, intinya kami adalah sepasang sahabat penggila baca.
            Hari  ini teriknya matahari sangat menyengat. Dan disinilah kami. Aku dan Jarnika. Toko Buku. Tidak asing, bukan? Dosen kami –yang lumayan killer- itu tadi tiba-tiba saja mendadak tidak masuk. Tidak jelas apa alasannya. Dan bahkan tidak ada yang mau tahu kenapa. Yang penting : TIDAK MASUK.
            Seperti biasa setiap berada di toko buku aku dan Jarnika akan berpisah. Jarnika akan langsung menuju ke bagian novel sementara aku akan stuck dulu di bagian biografi, baru berlanjut ke bagian novel.
            Aku meneliti buku-buku itu satu persatu berharap menemukan yang menarik. Biografi mantan presiden itu masih sangat menggiurkan. Sayang harganya selangit untuk ukuran kantongku. Biografi pemusik, pahlawan, politikus. Aku berjalan pelan ke rak sebelahnya, sambil membaca pelan judul-judul buku itu.
            Tidak menemukan yang menarik (dan murah) aku pun melangkahkan kakiku ke bagian novel menghampiri Jarnika yang sudah terlihat. Lalu aku percepat langkahku. Saat sedang berjalan itulah, ada seseorang berjalan di sebelahku. Karena sambil mengetik sesuatu di handphone-nya ia berjalan sedikit oleng dan hampir menabrakku. Kontan ia mengangkat kepalanya dan ini yang membuatku terkejut.
“Bisakah kusebut ini kebetulan?” kataku dalam hati. Hanya butuh beberapa detik saja aku melongo karena orang itu pun sekarang sudah memandangku tak kalah kagetnya.
            “Acel ??” tanyanya dengan wajah bodoh. Sangat bodoh sampai aku ingin tertawa.
            “Hai Nathan. Kita ketemuuuu lagiiiii...” lalu aku tertawa sangat bersemangat bercampur geli karena kebetulan ini.
            “Sama siapa?”
            “Sama temanku, itu yang disana.” Jawabku sambil menunjuk ke arah Jarnika yang sudah berjalan ke arahku.           
“Eh ayo aku kenalin sama temanku.” Aku memanggil Jarnika, ia pun datang dengan sedikit bingung.
“Nik, Ini Nathan. Salah satu teman dadakan aku. Kemarin ketemu gitu disini.” Aku mencoba menjelaskan dengan singkat pada Jarnika agar wajah bingungnya itu bisa sedikit dihilangkannya.
“Wah, Cel. Gila ya, udah berapa aja tuh teman dadakan mu, Cel? Tanya Jarnika sambil mengulurkan tangannya ke arah Nathan.
“Aku Nathan. Apa itu teman dadakan?” tanyanya bingung.
Sambil tergelak aku menjawab, “Iya, Nath. Tiap orang yang aku kenal di toko buku kan biasa jadi temenan tuh sama aku. Aku bilang aja teman dadakan. Lucu sih. Sama nih kayak sama Jarnika. Dia juga aku kenal di toko buku dan masih sahabatan sampai sekarang. Dan jawabanku itu seperti membuat Nathan memandang aku dan Jarnika lalu tertawa.
Singkat cerita hari itu akhirnya aku mengajak Nathan gabung bersama ku dan Jarnika.
Kami makan di Lalove Cafe. Salah satu tempat favoritnya Jarnika. Kami bertiga seperti panci yang menemukan tutupnya. Klop sekali.
            Dan saat pulang, Nathan sempat menanyakan nomor handphone-ku. Jelas saja ia menanyakan nomor handphone. Karena aku bukanlah salah satu pengguna smartphone yang sedang marak itu.

***

            Semenjak hari itu aku dan Nathan beberapa kali berkomunikasi. Bukan jenis komunikasi yang kau pikirkan. Kami hanya smsan dan membicarakan buku dan penulis. Paling diselingi dengan obrolan kami tentang kegiatan menulis yang sedang aku kerjakan. Terkadang kami janjian untuk ketemu bertiga. Aku, Jarnika dan Nathan. Di toko buku itu tentunya. Nathan ternyata tidak seumuran denganku dan Jarnika. Dia setahun diatas kami, dan sekarang ada di semester 5.

***

            “Acel.” Ketukan di pintu kamarku seketika membuyarkan lamunanku. Kuletakkan pelan foto itu kembali di meja samping tempat tidurku dan bergegas membukakan pintu. Ayahku ada disana dengan wajah letihnya.
            “Ayah? Ayo sini masuk, Yah. Acel gak lagi ngapa-ngapain kok.” Ajakku sambil menarik tangannya masuk.
            Menjadi anak tunggal sekaligus hidup hanya berdua dengan ayah selama beberapa tahun kontan menjadikanku sangat dekat dengan ayah. Dan ayah sangat memanjakan aku. Bukan memanjakan dengan cara memberikan apa saja yang aku minta, tapi ia akan selalu ada di sampingku. Menggantikan perhatian-perhatian kecil yang biasa diberikan ibu yang tidak biasanya seorang ayah lakukan. Sejak ibu meninggal, ayah memang menjadi sedikit penyendiri. Tidak dapat aku bayangkan bagaimana hancurnya hati ayahku kehilangan ibu. Dan itu menjadikanku anak yang mandiri. Paling tidak aku akan sangat berusaha tidak menambah sedih di hatinya.
            Ayah bekerja di salah satu perusahaan swasta di bidang produksi kertas. Dan dengan itulah dia berusaha membiayai hidup kami. Kuliahku dan sehari-hari kami di rumah. Jika ada bonus atau tambahan gaji, aku akan diberikan ayah sebagian dan lalu kami akan bersama-sama makan ke luar menikmati udara malam sekaligus melepas sepi di rumah.
            Malam itu ayah tidak berkata banyak. Hanya menanyakan kuliahku dan menanyakan hal-hal biasa lainnya. Tadinya ia bersikap biasa saja, sampai pandangan matanya tertuju ke foto yang terbingkai figura coklat kayu disamping tempat tidurku. Yang tadi kuletakkan saat akan membuka pintu. Foto ibuku. Dan, malam itu aku melihat lagi mata kehilangan ayah, tepat di depan mataku sendiri.

***

            6 bulan berlalu dan sekarang aku berada di sebuah talkshow dengan seorang penulis sebagai bintang tamu sekaligus pembicaranya. Aku tidak sendiri. Aku bersama dua sahabatku. Jarnika dan Nath. Sekarang kami bertiga sering kali bersama-sama. Dan Nath pun resmi menjadi bagian dari kami. Dan penggila baca seperti kami bertiga, akan sangat tidak mungkin melewatkan event-event macam ini yang tentunya sangat jarang diadakan di kota kami ini. Dan ini akan sangat berguna untuk menambah ilmu menulis kami yang masih sangat amatiran ini. Apalagi aku dan Nath sedang mencoba menulis suatu naskah novel berdua.
            “Ini minuman kalian, nih.” Suara cempreng Jarnika terdengar sambil menyerahkan minuman yang baru saja ia beli di stand minuman di luar gedung tempat diadakannya talkshow ini. Aku hendak menyerahkan minuman itu kepada Nathan, tapi aku sempatkan membuka tutup cup nya.
            “Nath, ini Jeruk. Kamu gak bisa,kan?” tanyaku sambil membuka tutup cup punyaku. Mangga.
            “Nih kamu yang ini aja deh.” kataku sambil menyerahkan minuman yang semula untukku, padanya.
            “Eh iya sorry Nath. Aku lupa kamu gak bisa Jeruk ya. Maaf, Nath.” Jarnika terdengar sangat menyesal. Bahkan kalau kuperhatikan wajahnya memelas sekali, mirip tokoh kartun beralis tebal itu jika sedang meminta maaf pada ibunya.
            “Gak apa-apa, Nik. Aku suka juga kok Mangga. Makasih ya, Nik. Makasih juga,Cel. Baik, deh.” tawa Nath menenangkan Jarnika, sambil mengacak pelan rambutku.
            Dadaku berdesir. Bukan pertama kalinya Nath begini, tapi jantungku seakan mencelos tiap kali dia melakukannya. Mungkin dia tidak menyadarinya. Tapi, bukan hanya persahabatan aku dan Jarnika lah yang ia masuki. Tapi juga hari-hariku. Dan hatiku. Entah sejak kapan tapi aku akhirnya sadar aku menyukainya. Aku tidak hanya menganggapnya sahabat atau kakak seperti yang Jarnika lakukan. Aku memandangnya lebih dari itu. Yang pasti aku tidak mau dia ataupun Jarnika tahu. Aku tidak ingin merusak sedikitpun bagian dari  persahabatan kami.

***
            “IBUUU....!”
            Terengah-engah nafasku memburu naik turun. “Sial, mimpi buruk.” Gumamku pelan. Aku memimpikan ibu. Melihatnya datang ke kamarku tapi saat sudah mendekat ia malah pergi dan menjauh. Menyedihkan sekali. Aku sangat merindukan ibu. Tanpa sadar, aku melihat seisi kamar. “Ibu datang lihat aku ya?” desahku pelan sambil menahan airmataku yang siap terjatuh.          
Malam ini hujan deras sekali. Aku sangat membenci hujan. Karena saat hujan lah aku kehilangan ibu. 
Hari itu aku dan ayah kehilangan Ibu. Hujan deras dan petir menggelegar. Seakan mengisyaratkan teriakan hatiku yang memberontak. Setiap bulir hujan itu seperti mengalirkan empati di tiap tetesannya. Sakit sekali. Sejak saat itu, setiap hujan datang, aku seperti merasakan sakit itu kembali.

***
           
            Sekarang aku memiliki kegiatan baru. Mengisi Diary.  Ya ya aku tau itu sangat kekanak-kanakan tapi menurutku cukup ampuh juga. Mengingat aku tidak bisa menceritakan perasaan yang kurasakan pada Nath, kepada Jarnika. Aku juga tidak mungkin menceritakan tentang rinduku ke ibu pada ayah. Atau ke Jarnika. Tidak. Aku tidak mau kelihatan lemah di hadapan siapapun.
            Dear diary...
            Hanya 2 kata magis itu mampu menarikku ke dunia yang berbeda. Membobol benteng pertahananku. Disini aku bisa menuliskan semua keresahan, kesedihan, maupun bahagia yang aku rasakan.
           
***

            Hari ini tumben-tumbenan Nath mengajak aku dan Jarnika jalan-jalan. Dan herannya dia malah berjanji mentraktir kami berdua. Padahal, biasanya kami minta traktir minum saja dia tidak mau. Uangnya selalu habis untuk membeli buku dan buku.
            Itu sejam yang lalu.
Sekarang yang ada di depanku adalah wajah sumringah Nath dan teriakan tertahan Jarnika. Semu merah di wajah Nath hari ini tidak akan bisa aku lupakan.
            “Aku baru jadian, nih.” Suara riang Nath timbul tenggelam di telingaku. Jantungku seakan berhenti berdegup. Bahkan aku tidak bisa membayangkan seperti apa wajahku tadi. Sampai-sampai aku tidak ingat bagaimana aku menanggapi cerita Nath tadi. Aku hanya berjalan, walaupun kakiku lemas. Canda-candaan Jarnika dan Nath terdengar samar-samar, sampai Nath menepuk bahuku.
            “Heh, kamu kenapa, Cel. Dari tadi mukanya kayak beda deh. Sakit, bukan?”
Gelagapan aku berusaha menutupi keterkejutanku. Tertawa bahkan di telingaku sendiri terdengar munafik.
            Jarnika baru saja dijemput ayahnya pulang sedangkan aku akan diantar oleh Nath dengan motornya. Dinginnya udara malam menusukku hingga ke tulang. Tanpa sadar ku ulurkan tanganku menyentuh pinggang Nath. Entah ada apa tapi Nath menarik tanganku untuk memeluk pinggangnya. Hatiku mencelos. Tapi ku abaikan. Biarlah malam ini untuk pertama kalinya, aku sedekat ini dengan Nath.

***

            Sejak Nath jadian dengan cewek itu -kata Jarnika namanya Tara-, otomatis waktu jalan bertiga kami pun berkurang. Apalagi Tara sekampus dengan Nath. Tentu waktu-waktu Nath akan semakin sering terpakai berdua dengan Tara dibanding denganku dan Jarnika. Dan rutinitas kami pun seperti kembali lagi seperti dulu sebelum kami bersahabat dengan Nath.
            Dering “bip-bip” pelan berbunyi di handphone ku, menandakan ada sms yang masuk.
Kubaca dengan malas dan bibirku langsung terangkat di sudut kiri dan kanannya. Tersenyum.
Nath besok mengajak aku dan Jarnika ke toko buku langganan kami. Aku bersemangat. Setidaknya bertemu. Sebagai sahabat pun tak apa.

***

            “Itu Nath..!” tunjukku kearah bagian buku traveller. Dengan langkah cepat aku dan Jarnika berjalan menghampiri Nath sekaligus ingin mengejutkannya. Semakin dekat. Tanganku sudah terangkat untuk menepuk bahunya. Dan saat itulah aku melihat cewek itu. Ya. Siapapun dia. Cantik. Dan tangan Nath memegangnya erat. Kurasa itu Tara.
            Tak sampai beberapa detik, Nath berbalik memandang aku dan Jarnika. Dadaku terasa menggembung ingin meledak. “apa-apaan ini” pikirku. Aku berusaha mati-matian memaksa  bibirku untuk tersenyum. Sekilas aku melihat raut wajah Nath yang berbeda. Entahlah tapi aku merasa dia tahu apa yang aku rasakan. Tidak. Dia tidak mungkin tahu. Jarnika seperti biasa mengambil alih percakapan dan langsung tertawa-tawa meledek Nath. Dan tatapan mata kami –yang-entah-apa-artinya-itu- pun terhenti. Sedikit rasa lega menyelimuti tengkukku. Mata Nath sangat. Aneh.

***

            Disinilah aku. Aku, Jarnika, Nath, dan Tara. Ya. Kau tidak salah dengar. Dengan Tara. Jauh melewati rasa cemburuku melihat cewek itu dengan Nath, sebenarnya Tara adalah teman yang menyenangkan. Dia bisa masuk dengan percakapan kami meskipun sebenarnya baru kali ini bertemu aku dan Jarnika.
            Secara lambat laun aku pun mencoba mengerti. Aku sahabat Nath. Dan cewek cantik ini tentu sangat ingin masuk ke pergaulan Nath juga. Aku mengerti. Sambil mendengar Jarnika dan Tara bercerita, aku memandang Tara. Dia sangat cantik. Rambutnya pirang bergelombang. Caranya berpakaian simple. Tapi cantik. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi tidak pesek juga. Sepertinya anak yang pintar. Tiba-tiba aku merasa minder. Wajar saja Nath lebih tertarik dengannya. Sampai-sampai tidak melihat aku. Apalagi aku terlanjur dicap sebagai adiknya, sahabatnya, apapun itu yang pasti bukan pacarnya. Sedikit airmata mulai berkumpul di kelopak mataku. Cepat-cepat aku memalingkan wajahku dan betapa terkejutnya aku melihat Nath sedang memandangiku. Tidak. Mata itu lagi. “sial.” Desahku dalam hati.

***

            Hari ini Minggu pagi angin puyuh membawa si bawel Jarnika ke rumahku. Tidur pagi ku  langsung terganggu dengan suara cemprengnya. Ayah hanya tertawa kecil melihatku dan Jarnika yang sekarang malah sedang perang bantal. Dia bukan hanya memaksaku bangun tapi juga menodongku untuk memasak makanan favoritnya. Pizza Mie. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan ini. Hanya Mie Instan yang direbus dengan bumbu-bumbunya. Lalu, angkat, tiriskan airnya, dan masukkan telur yang sudah dikocok. Jumlah telurnya sesuai keinginanmu, biasa sekitar 1-2 butir. Lalu masukkan ke wajan yang telah dipanaskan. Kau tinggal menggoreng dan menunggunya hingga kecoklatan, dan setelah matang potong menyerupai Pizza. That’s it. Dan itu adalah resep andalan ibu apabila aku sedang tidak nafsu makan.
            Sambil berceloteh riang, Jarnika pun makan dengan lahapnya. Padahal dia mengaku di rumah sudah sarapan. “Dasar perut karet.” Cibirku yang hanya ditanggapinya dengan acuh tak acuh.
            Kami baru saja selesai sarapan dan kurasa demi alasan kemanusiaan aku harus segera mandi. Aku mengambil peralatan mandiku dan meninggalkan Jarnika di kamar. Seperti biasa, anak itu sibuk melihat-lihat judul novelku dan membaca-baca novel yang dianggapnya menarik. Sekitar 20 menit aku sudah selesai dan kembali ke kamar. “aah... segarnya..” gumamku pelan. Baru saja aku menekan gagang pintu dan yang kudapati adalah : diaryku. Ditangan Jarnika. Sedang dibaca. Dengan mimik wajah bertanya memandang ke arahku. Aku                                                                                                                                                     tahu cepat atau lambat semua akan terbongkar. Tapi niatku tidak dengan cara seperti ini. Alis Jarnika terangkat. Saatnya aku memberikan penjelasan. Kulangkahkan kakiku dan kuhela nafas dalam.
            Perlahan semua cerita itu meluncur dari mulutku. Dari awal hingga sekarang. Kupasrahkan saja semuanya pada Jarnika. Berharap Jarnika bisa menutup mulut tentang ini.
Sedikit airmata menetes di pipiku yang segera aku hapus dan kututupi dengan tawa kecil. Setelah selesai bercerita aku diam, menunggu reaksi Jarnika apapun itu. Dan respon Jarnika rasanya merontokkan seluruh tubuhku.
            “Kamu bodoh banget, Cel. Dulu Nathan itu suka sama kamu. Tapi, karena kamu gak kelihatan merespon dan Nathan pun takut yang ada perasaannya malah membuyarkan persahabatan kita, Nathan pun nyoba buat move on dari kamu. Awalnya katanya susah. Tapi akhirnya ya itu dia, Tara datang. Benar-benar di saat yang tepat.”
            Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku benar-benar tidak pernah menangkap sinyal Nath. Dan mengapa Tara datang di saat sekarang. “Gak adil. Ini gak adil. Hatiku seketika memberontak. Tara mengambil Nath dariku.” Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.

***

            Jarnika, Nath, Aku dan Tara. Lagi-lagi formasi ini. Entah ide siapa tapi kami bertiga ditambah Tara tentunya akhirnya bertemu di foodcourt ini. Sambil asyik mengobrol, aku memperhatikan Nath. Tawanya. Poninya yang berjatuhan di keningnya. Suaranya. Sungguh tidak adil Tara memiliki semua yang seharusnya jadi milikku. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri sampai tiba-tiba Tara memegang tanganku. Sedikit tersentak, aku menoleh.
            “Aceeeel, temenin aku ke toilet yuk.” Rengeknya. Yang membuat sedikit hatiku melengos.
            Masih setengah jalan kami menuju ke toilet Tara membuka obrolan.
            “Cel, kamu tau gak Nathan sukanya buku yang kayak gimana? Aku pengen beliin dia buku nih. Sekalian Cel, temenin aku yuk minggu depan. Sekalian tuh kamu rekomendasiin buku yang bagus. Aku pengen nyoba baca juga, Cel. Biar Nath seneng deh.” Tawanya mengiris hatiku.
            “Oh iya. Gampang, Tar. Nanti aku temenin.” Aku menjawab pelan. Berusaha menampilkan senyum terbaik.
            Saat Tara masuk ke bilik toilet itu aku tercenung. Dia begitu menyayangi Nath. Dia berusaha melakukan apa yang Nath suka. Apa tidak jahat kalau aku merusaknya? Aku sangat tahu rasanya melihat orang yang kita suka atau kita sayang pergi dengan cewek lain. Apa aku tega membuat cewek lain merasakan itu? Mendadak aku malu. Malu sekali. Tara tidak merebut Nath. Semua memang sudah takdir dan yang aku bisa hanyalah menerima. Tapi sungguh menyakitkan melihat semua ini. Kurasa aku hanya butuh waktu.

***

            Aku baru akan duduk kembali di kursiku, saat kulihat tatapan Nath mengarah tajam kepadaku. Menutupi kebingunganku, aku pura-pura berceloteh tentang novel-novel yang baru terbit pada mereka.

***

            Tiga minggu berlalu sejak pertemuan terakhir kami itu. Dua minggu lalu aku menemani Tara ke toko buku dan melihat antusiasme di wajahnya aku sungguh tidak tega. Lagipula belum tentu Nath masih menyukaiku, kan? Aku melamun hingga tiba-tiba terdengar petir menggelegar. Pertanda hujan. Aku benci hujan. Aku merasa hujan itu selalu membawa aura kesepian. Aku menaiki tempat tidur dan menarik selimutku. Rasanya baru beberapa detik mataku terpejam saat handphone-ku berbunyi. Sebuah pesan masuk. Nama “Nath” tertera di layarnya. Dan itu sedikit membuatku heran.
           
            Sender : Nath
            Bs keluar sebentar? Aku di depan rumahmu, Cel.

Keningku berkerut. Kulirik dengan cepat jam di dinding. Jam setengah sembilan. Belum terlalu malam sih. Tapi aneh karena tiba-tiba. Aku bergegas keluar. Untungnya ayah sudah masuk ke kamarnya sehingga aku bisa langsung keluar rumah. Hujan deras menyambutku. Nathan memang ada disana. Dan basah kuyup.
            “Ada apa, Nath?  Kenapa tiba-tiba sih. Mau minjem buku? Yaelah besok kan bisa. Ckckck” aku mengakhiri omelanku dengan berdecak heran.
            “Benar kata Jarnika, kamu suka sama aku?” tanyanya tajam dengan tubuh setengah menggigil.
            Jantungku berhenti seketika. Ini hal terakhir yang aku ingin Nath tahu. Dalam hati aku mengutuk Jarnika. Aku ingin mengeluarkan kata-kata apa saja untuk membantah perkataan Nath tapi bahkan mulutku tidak bisa terbuka.
            Nath mencengkram bahuku. Memaksa mataku melihat ke wajahnya.
            “Kurasa Jarnika sudah mengatakannya padamu, kan. Aku juga menyukaimu, Cel. Aku memaksakan diriku melupakanmu karena kukira kau tidak merasakan apa yang kurasakan.”
            Hatiku bergejolak. Ini yang kuinginkan. Tapi sesuatu melarangku mengatakan yang sebenarnya.
            “Tara...” desahku. Hanya itu yang bisa aku ucapkan.
            “Tara datang di saat aku benar-benar ingin melupakanmu, Cel. Aku pikir dengan ada Tara aku bisa mengalihkan perasaanku darimu.” Suara Nath lirih.
            Tiba-tiba sekelebat bayangan Tara melintasi otakku. Wajah gembiranya. Cara dia menganggap aku dan Jarnika sahabatnya. Tara yang mau mencoba membaca hanya agar Nath senang. Tidak. Aku tidak akan pernah tega melakukannya. Setidaknya kalaupun mereka putus, itu bukan karena aku.
            Entah datang darimana seluruh kekuatan itu, tapi aku mengangkat wajahku dan menatap mata Nathan.
            “Nath, Jarnika benar soal itu.” Kubiarkan jeda beberapa detik sekedar meyakinkan perasaanku sendiri. “Tapi itu dulu, Nath. Sebelum kau memutuskan bersama Tara, aku sudah menghapus perasaanku padamu.” Aku mulai terisak. “karena kupikir, aku hanya menyukaimu sebagai sahabat.”
            Rahang Nathan mengeras. Sebersit luka terlihat di matanya.
            “Kau bohong, kan? Tapi Jarnika bilang...”
Belum selesai Nathan berbicara aku memotong perkataanya setengah berteriak. “JARNIKA TIDAK TAHU. AKU YANG TAHU, NATH !”
            Setengah putus asa aku mulai menangis. “Kumohon, Nath. Jangan mempersulit aku. Pergilah. Kumohon Nath.” Aku terus mengucapkan kata-kata itu dalam hati.
            Beberapa detik berlalu, dia masih disana. Masih dengan tatapan mata itu. Hujan masih menderu. Mengalirkan empati di tiap bulirnya.
            “Aku tidak percaya kau mengatakan ini. mengapa kau tipu dirimu sendiri, Cel?” lirih suaranya terucap. Dan dengan gontai ditembusnya hujan deras itu. Pergi.
            Sementara aku? Aku masih berdiri disini. Rasa sesak menekan dadaku. Sungguh saat dikatakan patah hati, aku seperti merasa memang ada yang patah di dalam dadaku. Rasanya sakit sekali. Sungguh aku sangat berharap bisa memeluk tubuh menggigil itu tadi. Aku sangat berharap tidak melihat luka di mata itu. Nath, andai kau tau rasanya, saat kita harus melepaskan apa yang tidak ingin kita lepaskan. Tapi aku tahu, semuanya akan lebih baik dibanding aku menjadi orang yang menyebabkan Tara terluka.

***

Aku berusaha memperbaiki hatiku yang carut-marut sejak peristiwa itu. Aku mengambil jarak dengan Nathan. Dan mengganti nomor handphone-ku. Menolak tiap ajakan Jarnika untuk berkumpul bertiga lagi. Aku harus menghindar sementara aku menata hatiku kembali. Sampai akhirnya aku mendengar kabar Nath dan Tara sudah diterima lulus kerja di Jakarta. Jadi mereka akan berangkat empat hari lagi. Jarnika mengantarnya, tapi aku tidak. Perasaanku tentu saja masih ada. Akan semakin menyakitkan melihatnya pergi, dengan orang lain pula. Aku memilih tidak melihatnya.

***

Semester akhir mulai menyita waktuku dan Jarnika. Mata kuliah terakhir, ujian perbaikan, penelitian untuk skripsi dan sebagainya. Aku bagai orang gila. Bahkan sudah bisa dihitung berapa kali kami pergi bersama ke toko buku.
Sesekali aku masih mendengar cerita Jarnika soal Nath dan Tara. Hebat. Mereka bisa menjaga hubungan itu. Nath benar-benar beruntung. Tidak heran Jarnika masih mengetahui kabar Nath. Mereka kerap kali komunikasi lewat bbm, walaupun tidak intens.
Dan hari ini, saat menunggu nasi goreng pesanan kami datang, lagi-lagi Jarnika bercerita tentang Nath. Tentu saja ia tidak tahu bagaimana perasaanku terhadap Nath sekarang. Dia mengira aku memang benar-benar telah melupakan Nathan.
“Nath sama Tara katanya bentar lagi tunangan, loh. Masih rencana sih.” Katanya sambil sibuk mengunyah telor dadar.
Dadaku bergemuruh hebat. Kuabaikan. Kuabaikan hingga hari itu datang.

***

Undangan itu ada di depan pintu. Tepat di depan pintu. Undangannya sangat menarik.
Huruf emas yang terukir di bagian depan undangan itu membuat hatiku mencelos.

Nathanial Hernandito & Tara Renata

            Pandangan mataku mengabur. Sakit sekali. Sudah bertahun sejak aku memutuskan melepaskannya mengapa hari ini aku masih merasa sesakit ini. Airmataku jatuh tanpa bisa kucegah. Dan seluruh nafasku seperti tertarik ke dalam. Sesak. 

-The Limited Edition

Dulu dan Kini


Hujan lagi lagi mengguyur bumi
Menurunkan tetes demi tetes dingin yang menusuk
Otakku kembali memutar kenangan tiap kenangan
Yang sebenarnya tidak pernah terlepas satu inci pun dari sel sel otakku
Waktu itu kita, aku dan kamu di tengah hujan itu.
Kita berlari, berteriak,tertawa, dan bahagia
Sedikitpun tak kita hiraukan dingin yang menerpa tubuh kecil kita
Tak kita perdulikan kilatan cahaya petir yang bergemuruh hebat diatas kita
Walaupun mungkin esoknya sakit akan melumpuhkan kita, kita tetap tak mau tau

Sekarang saat tubuh kita tak lagi kecil
Dan otak kita mulai berpikir lebih
Kita tak lagi ada di bawah hujan itu
Kita mulai takut akan dinginnya air itu dan mulai takut mendengar gemuruh itu
Kita mulai berpikir realistis dan mulai diam untuk berlindung

Ntah apa yang aku pikirkan
Hanya saja menjadi realisitis terkadang membosankan
Dan menyedihkan
Tak kan ada lagi kita ,yang ada di sana menantang hujan
Tak ada lagi kata kita, bahkan aku atau pun kamu disana.

-The Limited Edition

again and again.. newbie

Sebenarnya sudah entah berapa kali membuat blog di berbagai tempat yang selalu berakhir dengan dihapusnya blog tersebut dengan alasan malu kalo nulis disana-,- stupid :O

Blog terakhir itu dihapus sama site nya ntah karena terlalu lama tidak dibuka atau memang sitenya sudah ditutup.

Well, zona pemula. Ya semoga mimpi terbesar yang dibalut rasa pesimis itu ,bisa terwujud dimulai dari sini.

Sincerely,
-The Limited Edition